Kamis, 11 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Hati-hati meski Ada Prospek

Windarto dan Dian Pitaloka Saraswati
 
SEBUAH pengumuman penting disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dua pekan lalu: rekor ekspor nonmigas pecah pada angka US$ 93 miliar atau naik 15%. Ini memang angka sementara, tapi belum pernah terjadi pendapatan dari ekspor nonmigas bisa sebesar itu. Sepanjang 2007 hampir semua komoditi meningkat ekspornya. Mulai dari pertanian, industri, hingga tambang, turut menyumbang dolar. Luar biasa.
Tak heran bila cadangan devisa pemerintah, yang pada akhir 2006 masih berjumlah US$ 42,6 miliar, pada bulan Desember kemarin diperkirakan sudah bertambah menjadi US$ 55 miliar lebih. Hanya saja prestasi itu rasanya sulit terulang di tahun 2008, mengingat daya beli di pasar dunia terbentur oleh tingginya harga minyak. Ekspor Indonesia ke sejumlah negara-negara minus minyak bumi, seperti Jepang, Korea, dan Taiwan, terancam anjlok karena devisa mereka akan lebih tersedot untuk minyak.
Tapi, tak kurang jumlahnya yang tetap yakin bahwa masa depan ekspor nonmigas masih aman. ”Saya masih optimistis, tahun depan (2008) ekspor nonmigas akan tumbuh antara 14%-18%,” kata Mari. Beberapa komoditi ekspor yang disebutkan oleh Menteri Perdagangan masih akan berkibar di tahun 2008, yaitu tembaga, nikel, batu bara, CPO (crude palm oil), karet dan barang dari karet, kakao, kertas, dan barang elektronik.

 Artikel Lain
Ketika Tarif Semakin Miring
Penuh Tantangan, tapi Menjanjikan
Hati-hati meski Ada Prospek
Di Bawah Ancaman Minyak
Optimisme di Tahun Abu-abu
Menilik Rapor Bankir BUMN
Saling Salip di Jalur Pelat Merah
Meneropong Nasib Bumi dari Pulau Bali
Perlawanan dari Negeri Singa
Jalan Masih Sangat Jauh
Tampaknya, pemerintah percaya bahwa pengaruh resesi di negara-negara industri akan dinetralisasi oleh turunnya dolar terhadap mata uang yen dan euro. Karena sebagian besar rupiah terkait dengan dolar, maka turunnya dolar berarti terjadinya devaluasi rupiah terhadap yen, euro, dan mata uang kuat lainnya. Ini menyebabkan barang ekspor dari Indonesia bisa lebih bersaing. Faktor ini pula yang menjadi pendorong utama kenaikan ekspor di luar minyak dan gas (migas) sepanjang tahun 2007.
Melonjaknya ekspor nonmigas membuat neraca perdagangan 2007 kejatuhan surplus US$ 24 miliar. Surplus itu terutama dihasilkan dari ekspor barang-barang tambang, yang hingga Oktober 2007 telah menghasilkan devisa US$ 10,5 miliar atau naik 22,5% dibandingkan periode yang sama 2006. Komoditi pertambangan diperkirakan masih bisa melambung di tahun 2008. Tapi, tetap belum ada yang mengalahkan devisa dari industri. Dari total ekspor nonmigas US$ 86,2 miliar, 80% di antaranya berasal dari sini.
Melonjaknya ekspor nonmigas itu membawa dua implikasi. Pertama, bila ekspor migas turun, dampaknya terhadap neraca pembayaran tidak akan begitu parah. Karena itu, kendati ekspor minyak dan gas (migas) sampai Oktober lalu mengalami penurunan 1,2%, pengaruhnya terhadap neraca perdagangan tidak begitu terasa. Kedua, kenaikan ekspor nonmigas membuat kebijakan di bidang impor barang modal dan bahan baku agak begitu longgar. Itu sebabnya, hingga Oktober lalu impor mengalami kenaikan 15%.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, bidang jasa-jasa posisinya belum juga membaik. Sampai Oktober lalu saja, defisit transaksi jasa-jasa itu mencapai US$ 12,6 miliar. Kendati demikian, neraca barang dan jasa (transaksi berjalan) selama sembilan bulan masih bisa mencatat surplus US$ 8,4 miliar. Karena itu, agaknya, menjelang tutup tahun 2007 pemerintah kurang terdengar banyak melakukan pinjaman jangka pendek.

BARU SEBATAS RESESI
KECIL-KECILAN
Derasnya aliran modal luar negeri ke pasar modal telah berperan dalam perbaikan neraca pembayaran 2007. Sampai Oktober lalu, investasi portfolio ini hampir mendekati US$ 9 miliar atau naik lebih dari 200%. Prestasi ini paling tidak mampu menutupi buruknya penampilan investasi langsung yang hanya mencapai US$ 2,5 miliar. Namun demikian, pemerintah harus tetap waspada karena investasi di portofolio bersifat spekulatif, tergantung persepsi investor terhadap iklim ekonomi di dalam negeri Indonesia.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana dengan penampilan neraca pembayaran di tahun 2008? ”Sulit bagi (perdagangan) kita untuk tersenyum karena tantangannya akan luar biasa,” kata Pande Radja Silalahi, peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Melambatnya perekonomian dunia akibat tingginya harga minyak memang bakal mengubah penampilan neraca pembayaran di tahun 2008.
Kiamat minyak belum terjadi, memang. Harga belum sampai US$ 100 per barel. Karena harga minyak saat ini baru berayun antara US$ 70-US$ 80 per barel, banyak pengamat menilai pukulannya terhadap ekonomi negara-negara industri tidak begitu parah. Mereka menilai lonjakan minyak kali ini tidak segawat shock tahun 1973-1974, di mana harganya naik sampai 300% dari US$ 4 jadi US$ 12 per barel. Juga belum separah shock 1978-1979, ketika harga minyak naik 200% lebih dari US$ 12 menjadi US$ 26 per barel.
Jadi, memang belum mengancam benar. Namun demikian, resesi kecil-kecilan sudah mulai tampak di sejumlah negara. Ini berarti ekspor Indonesia ke sana terancam anjlok, karena devisa mereka akan lebih banyak yang tersedot untuk membeli minyak. Resesi yang terjadi pada awal tahun 1980-an sudah membuktikan bahwa ekspor sejumlah komoditi primer dari Indonesia, seperti karet dan tembaga, harganya amblas di pasaran dunia. Industri kayu lapis dan pengolahan pun pernah tertimpa dampak resesi.
Inilah yang dikhawatirkan para eksportir di tahun 2008. Sebenarnya, secara global, perputaran uang itu tidak hilang. Hanya mengalir dari negara-negara nonminyak ke negara penghasil minyak seperti negara-negara Arab. Tapi, dari pengalaman yang sudah-sudah bisa diketahui bahwa mereka tidak menggunakan seluruh petro dolarnya untuk berbelanja. Biasanya negara-negara Arab menggunakannya untuk membeli perusahaan atau taruh di bank-bank internasional di Amerika dan Eropa. Akibatnya, laju konsumsi dunia yang telah berkurang di negara-negara maju tidak akan bergeser ke Timur Tengah.
Tidak ada jalan lain, menurut Drajad Wibowo, anggota DPR, membuka pasar baru harus menjadi prioritas di tahun 2008. ”Terlepas diuntungkan atau dirugikan, diversifikasi pasar harus dilakukan,” katanya. Pendapat ini rupanya sejalan dengan langkah-langkah Departemen Perdagangan untuk menjaga pertumbuhan ekspor. ”Selain diversifikasi pasar, kita juga akan melakukan diversifikasi produk,” kata Mari.
Selain negara-negara Arab, Rusia dan negara-negara Eropa Timur menjadi incaran produk-produk Indonesia di masa depan. Sepanjang tahun 2007, negara-negara di kawasan itu mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, yakni 8% hingga 10%. Dengan pendapatan per kapita berkisar US$ 4.000-US$ 7.000, Rusia dan negara-negara Eropa Timur memang bisa menjadi pasar yang potensial bagi produk Indonesia.
Peluang lain yang akan dibuka Indonesia ialah mengembangkan produk-produk kreatif, seperti kerajinan tangan, musik, arsitektur, fashion, video game, seni pertunjukan, penerbitan, komputer, dan peranti lunak. Jika dikelola secara benar, menurut Mari, produk-produk kreatif ini bisa memberikan sumbangan yang tidak sedikit terhadap produk domestik bruto (PDB). ”Estimasi kami antara 5% hingga 6%,” kata Mari.
Kendati berbagai upaya untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor terus dilakukan, namun Pande tak yakin hasilnya akan sebagus tahun 2007. ”Kita masih punya prospek ke depan, tapi untuk mencapai pertumbuhan ekspor 10% rasanya cukup berat,” katanya. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by ProWeb APDesign