Kamis, 11 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Rame-Rame Menyerbu KPR

Syarif Hidayat, Windarto, dan Kun Wahyu Winasis
 
KREDIT kepemilikan rumah, atawa KPR, kelihatannya bakal kembali menjadi primadona di industri perbankan kita. Sinyal ke arah itu, sebenarnya, sudah terlihat sejak tahun lalu. Berdasarkan data Bank Indonesia, sepanjang 2006, total KPR yang disalurkan perbankan nasional—termasuk ruko dan rukan—mencapai Rp 64,2 triliun. Dibandingkan 2005, jumlah itu meningkat 32,2% atau senilai Rp 15,7 triliun.
Tahun ini, kalangan perbankan optimistis penetrasi KPR bakal tumbuh hingga 30%. Tingginya kebutuhan rumah tinggal merupakan salah satu pemicu meningkatnya permintaan kredit yang satu ini. Diah Sulianto, General Manager Divisi Kredit Konsumen BNI, mengatakan pasar KPR di Indonesia masih cukup besar, terutama di wilayah Jabodetabek. Sebagai ilustrasi, saat ini saja BNI memiliki sekitar 7,5 juta nasabah.
Nah, dari jumlah itu tentu yang membutuhkan pembiayaan perumahan masih cukup banyak. Itu sebabnya, setelah tahun lalu tumbuh 32%, tahun 2007 bank BUMN ini memasang target kreditnya naik 37,7% menjadi sekitar Rp 3,5 triliun. Dari jumlah kredit baru tersebut, 10% di antaranya akan dialokasikan untuk KPR rumah sehat sederhana (RSH) dengan plafon kredit sekitar Rp 40 juta. Sedangkan sisanya akan diperuntukkan bagi segmen menengah-atas.

 Artikel Lain
Rame-Rame Menyerbu KPR
’Pengakuan Dosa’ Belum Cukup
Garansi yang Bukan Garansi
Musim Adu Jago Telah Tiba
Mewah, tapi Resah
Diah mengungkapkan, plafon KPR yang diberikan BNI berkisar antara Rp 50 juta-Rp 5 miliar. Namun yang terbesar, sekitar 40%, memiliki plafon kredit Rp 200 juta-Rp 400 juta. Untuk menarik minat konsumen, BNI memiliki banyak kiat. Misalnya, bunga kredit dipatok sebesar 12,6% flat di tahun pertama. Untuk selanjutnya perhitungan bunga disesuaikan dengan pasar, namun kisarannya di angka 13,5% efektif.
Selain memberikan bunga miring, BNI juga menawarkan banyak kemudahan dalam soal cicilan. Diah mengatakan, melalui produk BNI Griya Angsuran Suka-Suka, nasabah diberi kebebasan mencicil pinjaman sesuai kemampuannya. Misalnya dua tahun pertama besarnya cicilan ditetapkan sebesar Rp 2 juta per bulan. Selanjutnya, jika keuangannya membaik, nasabah tadi bisa meminta perubahan besarnya angsuran. ”Kita mengikuti kondisi si nasabah. Jangka waktu kreditnya bisa sampai 20 tahun,” katanya.
Besarnya pasar KPR juga telah membuat Bank Central Asia (BCA) semakin agresif menyalurkan dananya. Tahun lalu saja, bank yang kini dimiliki Grup Djarum ini mampu menyalurkan dana baru senilai Rp 1 triliun. Sehingga outstanding KPR yang dimiliki BCA mencapai Rp 4 triliun. Tahun ini, manajemen punya ambisi besar. Menurut Aswin Wirjadi, Wadirut BCA, perseroan menargetkan bisa menyalurkan kredit baru sebesar Rp 3 triliun atau tumbuh 75%.
Sepintas target tersebut terlihat kegedean. Tapi Aswin punya fakta menarik. Selama dua pekan terakhir, BCA telah menyetujui kredit perumahan baru sebesar Rp 600 miliar.
Jadi, dengan tenggat waktu yang masih panjang, lanjut Aswin, manajemen optimistis target tadi akan tercapai. Apalagi tingkat suku bunga yang ditawarkan kepada nasabah cukup kompetitif. ”Bunga KPR kami 9,99% efektif per tahun,” ungkapnya. Hanya saja, besaran bunga tadi hanya berlaku khusus bagi nasabah BCA. Jatuh temponya pun dibatasi maksimal 50 bulan. Di samping menawarkan kredit rumah baru, BCA juga menyediakan kredit untuk renovasi rumah. Besarnya bunga pinjaman saat ini sekitar 13% per tahun flat. Sementara jangka waktu kreditnya maksimal 20 tahun.

BTN TETAP PERCAYA DIRI
Jika nasabah menginginkan varian lain, tawaran dari Bank Internasional Indonesia (BII) pantas untuk dilirik. Saat ini, bank yang dikuasai Temasek itu menawarkan dua opsi KPR. Pertama, BII memberikan suku bunga flat sebesar 12,5% per tahun selama lima tahun. Opsi kedua, perseroan menawarkan bunga 10,98% flat untuk satu tahun pertama. Selanjutnya, untuk empat tahun sisanya akan naik menjadi 13,5% flat per tahun.
Dalam waktu dekat Bank Mandiri juga akan merilis produk baru yang memberikan bunga tetap. Besarnya bunga berkisar antara 8%-9% per tahun. Namun, Omar S. Anwar, Direktur Mandiri, mengatakan jangka waktunya dibatasi hanya dua tahun. ”Kami bekerja sama dengan 80 pengembang di tujuh kota besar,” ungkapnya. Sementara untuk KPR konvensional, Bank Mandiri pekan lalu juga telah menurunkan bunga kreditnya sebesar 1% menjadi sekitar 12%-13%.
Untuk tahun ini, kata Omar, pihaknya menargetkan bisa menyalurkan kredit baru untuk KPR sekitar Rp 1 triliun. Sehingga total outstanding-nya mencapai Rp 8 triliun. Sampai akhir Februari kemarin, kredit baru yang telah dikucurkan Mandiri mencapai Rp 150 miliar. Masih kecil memang. Tapi manajemen bank terbesar ini berkeyakinan angkanya akan semakin membesar mulai kuartal II nanti.
Nah, bagaimana dengan BTN? Sebagai pemain utama di bisnis KPR, mereka tentu tidak ingin pangsa pasarnya tergerus. Itu sebabnya manajemen BTN terus melakukan inovasi. Belum lama ini, untuk memperbesar segmen menengah-atas, BTN merilis KPR BTN Platinum. Produk ini memberikan plafon minimal Rp 150 juta dengan tingkat suku bunga 12,75% per tahun. Perhitungan bunganya dilakukan melalui sistem anuitas. ”Bunga flat itu kelihatannya rendah. Tapi yang dibayar konsumen sebenarnya sama dengan anuitas,” tutur Siswanto.
Khusus untuk segmen menengah-bawah, Direktur BTN tadi masih optimistis pangsa pasarnya tak berubah. Benar, kini banyak bank mulai agresif menyasar segmen tersebut. Namun dengan sejumlah keunggulannya, Siswanto tak khawatir penguasaan pasarnya—yang kini mencapai 96%—bakal tergerus. ”Persaingan memang semakin ketat. Tapi lihat saja, siapa yang akan bertahan dalam jangka panjang,” tuturnya.
Tahun ini, manajemen BTN menargetkan, bisa membiayai pembelian rumah baru sebanyak 110 ribu unit. Jika angka tersebut tercapai, dana baru yang bakal dikucurkan BTN mencapai Rp 7,8 triliun. Sementara realisasi kredit baru selama 2006 sekitar Rp 6,28 triliun.
Besarnya ambisi perbankan untuk menggarap KPR memang bisa dipahami. Selain pasarnya masih terbentang luas, jika dikelola dengan baik, risiko yang dihadapi juga relatif lebih kecil. Betul, sampai akhir 2006, KPR yang bermasalah mencapai Rp 2,7 triliun. Jumlah itu naik 125% ketimbang 2005 yang hanya sebesar Rp 1,2 triliun. Tapi dengan manajemen yang baik, masalah itu mestinya bisa diatasi. Misalnya dalam memilih debitor.
Diah Sulianto menjelaskan, KPR yang diberikan BNI lebih ditujukan untuk rumah pertama. Sehingga risikonya lebih kecil dibandingkan jika rumah yang dibiayai hanya untuk investasi. ”Sejauh ini NPL kami relatif kecil, di bawah 4%,” katanya.
Betul, kendati meningkat, saat ini kredit bermasalah di sektor perumahan belum tergolong besar. Tapi, dengan daya beli yang belum stabil, menggelontorkan KPR secara jorjoran bisa menjadi bumerang di kemudian hari. o


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id