|
|
 |
|
Supaya Tak Seperti Dulu
Unitlink
|
| Febry Mahimza, Hendra Gunawan, Syarif Hidayat, Restu Wijaya, dan Windarto |
| |
TRAUMA itu sudah berlalu. Aksi penarikan besar-besaran alias redemption dua tahun silam di instrumen reksadana seolah lenyap tak membekas. Buktinya, pertumbuhan premi dari asuransi unitlink, yang menggabungkan antara asuransi dan investasi ini sungguh luar biasa. Data yang dirilis Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan, hingga kuartal III kemarin, total premi baru yang berhasil diraup perusahaan-perusahaan asuransi jiwa mencapai Rp 32,4 triliun atau tumbuh 71,42 % dari periode yang sama tahun lalu.
Menurut Eddy Berutu, Direktur Eksekutif AAJI, dari total premi sebesar itu, sekitar Rp 11,4 triliun disumbangkan oleh produk unitlink. Lantas, dari total premi unitlink itu, ”Sekitar Rp 8,9 triliun merupakan pendapatan premi baru atau tumbuh 200% dari kuartal III tahun lalu yang hanya sebesar Rp 2,9 triliun,” ujarnya. Luar biasa! Pertumbuhan yang dahsyat itu dipicu oleh makin agresifnya perusahaan asuransi jiwa—yang berstatus asing ataupun patungan—dalam memasarkan produk unitlink.
PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) misalnya. Sampai kuartal III tahun ini, perusahaan Kanada itu sukses menggenjot pendapatan premi barunya sebesar Rp 355,09 miliar atau tumbuh 43% dari periode yang sama tahun lalu. Jika ditambah dengan premi perpanjangan dari nasabah yang sudah ada, maka total premi yang berhasil diraup asuransi ini mencapai Rp 680,47 miliar atau naik 38% dari periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp 492,34 miliar. Lantas, berapa sumbangsih unitlink? ”Dari total premi tersebut, sekitar 78,3% atau Rp 532,71 miliar berasal dari unitlink, terutama unitlink Brilliance yang berbasis saham,” ujar Barry Halpern, Presiden Direktur Sun Life.
Hebatnya, pertumbuhan produk unitlink pada perusahaan yang dikelola Barry, mencatat pertumbuhan sebesar 106%. Sebab, pada kuartal III tahun lalu, unitlink Sun Life hanya mencatat pendapatan premi sebesar Rp 258,78 miliar.
Kondisi serupa juga terjadi di PT Asuransi Allianz Life Indonesia (Allianz). Sampai akhir September 2007, total premi yang didulang Allianz mencapai Rp 1,8 triliun. Dari jumlah itu, sekitar 63% (Rp 1,1 triliun) berasal dari unitlink.
Kinerja yang ditorehkan PT AIG Life juga tak kalah mengesankan. Total premi baru yang diraih perusahaan asuransi asal Amerika ini mencapai Rp 1 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 90% berasal dari penjualan produk unitlink. ”Kenaikan premi unitlink karena dipengaruhi penurunan suku bunga BI. Bila suku bunga turun, unitlink akan meningkat,” kata S. Budisuharto, Wakil Presiden Direktur dan Chief Marketing Officer PT AIG Life.
SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN
Pertumbuhan premi unitlink yang signifikan itu, menunjukkan pulihnya kepercayaan konsumen pada produk asuransi berbalut investasi. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, bukan tak mungkin, kejadian redemption di instrumen reksadana yang berimbas pada asuransi unitlink, dua tahun silam, bisa terulang kembali. Maklum, return yang dihasilkan unitlink sangat bergantung pada performa sejumlah instrumen investasi, seperti reksadana, pasar uang, saham, dan obligasi. Nah, ketika performa underlying asset unitlink melemah, return investasi yang dihasilkan juga bakal menurun. Kondisi itulah yang terjadi pada 2005, tatkala BNI Life terpaksa kehilangan sekitar 295 pemegang polis dengan total dana yang ditarik sebesar Rp 53 miliar.
BNI Life tidak sendirian. Hampir seluruh produk asuransi unitlink lainnya juga mengalami hal serupa. Lantas, apa saja upaya yang dilakukan perusahaan asuransi agar peristiwa nahas itu tak terulang kembali? Untuk mengeliminasi risiko tersebut, Azwir Arifin, Direktur Teknik dan Operasional PT BNI Life Insurance, menegaskan, dana nasabah di asuransinya kini tak lagi hanya diputar oleh PT BNI Securities. Dari total pendapatan premi unitlink sampai kuartal III kemarin, sebesar Rp 39,77 miliar atau tumbuh sebesar 165,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kini dikelola tiga manajer investasi, yakni PT BNI Securities, Danareksa dan PT Schroders Investment Management.
”Ketiganya merupakan fund manager yang memiliki reputasi terbaik,” tutur Azwir. Adanya tiga manajer investasi yang mengelola dana unitlink BNI Life itu, tentu, memberikan pilihan berinvestasi bagi nasabah. Selain itu, jika kinerja salah satu fund manager menurun, risiko yang ditanggung BNI Life masih bisa tertutupi oleh manajer investasi lainnya.
Manajemen BNI Life tampaknya benar-benar trauma dengan kejadian dua tahun silam itu. Hal itu jua yang membuat anak perusahaan Bank BNI ini mereasuransikan kembali premi unitlink yang didapatnya. ”Kami telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan reasuransi yang mempunyai track record baik,” papar Azwir.
Kendati mengaku tak terlalu khawatir jika aksi redemption terulang kembali, toh Budisuharto tetap melakukan sejumlah langkah pengamanan dalam me-ngelola dana pemegang polis PT AIG Life. Dana nasabah AIG yang dikelola oleh divisi in-vestasi ini memiliki akses langsung dengan kantor regionalnya di Singapura. ”Kualitas analis kami tak kalah dengan analis di manajer investasi,” ucapnya. Selain itu, AIG juga menebar dana kelolaannya ke sejumlah instrumen investasi di dalam dan luar negeri. ”Sehingga, jika terjadi pergolakan di dalam negeri, kami tidak akan terlalu kena dampaknya,” ujarnya.
Lain lagi dengan yang akan dilakukan Barry untuk menekan timbulnya redemption di Sun Life. Kendati kinerja unitlink Briliance-nya hingga saat ini sudah menghasilkan return hingga 500%, ia tampaknya tak mau komposisi premi Sun Life terkonsentrasi pada produk unitlink semata. Makanya, mulai tahun depan, ia akan menggenjot pemasaran sejumlah produk konvensional, seperti asuransi kesehatan, pendidikan, dan syariah. Jadi, mulai tahun depan, target komposisi pendapatan premi Sun Life, sekitar 70% berasal dari unitlink, dan 30% dari produk konvensional. ”Peminat asuransi tradisional masih cukup besar,” ujarnya beralasan.
Uniknya, kendati mengaku aksi redemption dua tahun lalu bisa saja terulang kembali, tak ada upaya diversifikasi portofolio polis nasabah yang dilakukan manajemen PT AXA Mandiri. Menurut Hengky Djojosantoso, Head of Marketing PT AXA Mandiri, perusahaannya sudah mereasuransikan polis nasabah ke sejumlah perusahaan reasuransi lokal dan asing. Salah satunya ke PT Reasuransi Internasional Indonesia (ReIndo). ”Kami juga memberikan pengertian kepada calon nasabah, bahwa unitlink adalah produk jangka panjang dan bukan untuk berspekulasi jangka pendek,” paparnya kepada Saswitariski dari TRUST.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|